Minggu, 03 Juni 2012

MUQODDIMAH

Bismillahirrochmanirrochim.     

        Hembusan angin begitu dingin menerpa kota bogor.  Membelai hangat ke sekujur tubuhku. Aku tak mampu melarang hasrat pena ini tuk menari di atas lambang kesucian ini.

    Dalam hati kecil ini. Tak mampu lagi memuat untaian kata-kata. Sehingga menerbangkan hasratku untuk kembali menari.
Seiring waktu yang terus berlalu, seolah menghapus jejak langkah kakiku. Biarkan semua berlalu tanpa jejak dan ku pahami itu. Akan waktu yang tak mungkin kembali.

      Arti akan adanya torehan pena ini tuk jadi teman sejati di setiap langkah kakiku. Sebagai pengikat akan pudarnya memori.

      Sholawat salam semoga selalu mengalun merdu oleh petikan dawai hatiku. Cahayamu yang bak mentari menyinari bumi. Wahai Muhammad nabiku.

   Hidayah dan Rachmatmu bercucuran menyegarkan jiwa kotor ini. ampunilah noda yang mengotori lembaran kehidupan. Oleh karakter asalnya yang putih dan suci. Ya Allah,semoga dawai hati ini selalu mendawamkan syukur atas rachmatmu.

     Penari pena ini begitu syarat akan celah yang tak mampu tertutupi. Berjuta harapan akan adanya torehan pena ini tuk buatku lebih baik di setiap detik yang ku lalui.




 
@Cholish ibnu Ilyash ibnu Farchan..

0 komentar:

Posting Komentar

 
;